Dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan penguatan signifikan pada Selasa, 3 Maret 2026, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik yang semakin meluas mendorong investor global memburu dolar AS sebagai aset safe-haven di tengah ketidakpastian pasar.
Mengutip laporan dari Investing.com pada Rabu, 4 Maret 2026, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia tercatat naik 0,6 persen ke level 98,99. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak Januari 2026 dan memperpanjang kenaikan hampir satu persen yang terjadi sehari sebelumnya.
Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Permintaan Dolar
Penguatan dolar AS terjadi seiring eskalasi konflik yang awalnya melibatkan Amerika Serikat dan Iran, namun kini telah meluas ke sejumlah negara tetangga di kawasan Timur Tengah.
Kedutaan Besar AS di Riyadh dilaporkan menjadi sasaran serangan rudal, bersama dengan pusat data Amazon di Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain. Serangan tersebut disebut sebagai bagian dari aksi balasan Iran yang menargetkan beberapa lokasi strategis di kawasan.
Departemen Luar Negeri AS pada Selasa juga memerintahkan evakuasi personel pemerintah non-darurat beserta anggota keluarga dari Bahrain, Irak, dan Yordania. Sementara itu, Israel dilaporkan menargetkan Iran dan Lebanon setelah kelompok militan Hizbullah yang didukung Teheran melancarkan serangan rudal dan drone ke Tel Aviv.
Ahli strategi valuta asing dan suku bunga global di Macquarie, Thierry Wizman, menyebut bahwa potensi lonjakan inflasi akibat konflik menjadi faktor utama yang memicu kepanikan pasar.
Menurutnya, jika perang berkepanjangan, dampaknya bisa menyerupai lonjakan inflasi pada 2022 dan 2023 akibat perang Rusia-Ukraina. Ketergantungan ekonomi global terhadap energi murah, khususnya untuk mendukung pertumbuhan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI), dinilai dapat terganggu apabila terjadi pembatasan energi.
Wizman juga menambahkan bahwa inflasi yang meningkat dapat memicu sikap agresif bank sentral, terutama The Federal Reserve (The Fed). Sebelumnya, pasar memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga oleh The Fed tahun ini. Namun, prospek tersebut berpotensi berubah apabila tekanan inflasi kembali meningkat.
Euro, Yen, dan Mata Uang Asia Tertekan
Di kawasan Eropa, pasangan EUR/USD melemah 0,6 persen ke level 1,1621, memperpanjang penurunan tajam pada sesi sebelumnya. Tekanan terhadap euro terjadi karena ketergantungan Eropa terhadap impor energi yang meningkat di tengah konflik.
Data inflasi zona euro untuk Februari diperkirakan berada di level 1,7 persen secara tahunan, sama seperti Januari. Sementara inflasi inti diprediksi sebesar 2,2 persen (year-on-year). Kejutan positif pada data inflasi berpotensi mendorong Bank Sentral Eropa (ECB) lebih waspada terhadap tekanan harga energi.
Poundsterling juga melemah, dengan GBP/USD turun 0,3 persen ke 1,3367. Sementara itu, EUR/CHF turun 0,3 persen menjadi 0,9076 setelah Bank Nasional Swiss menyatakan kesiapan melakukan intervensi pasar valuta asing menyusul penguatan franc Swiss ke level tertinggi terhadap euro dalam lebih dari satu dekade.
Di Asia, USD/JPY naik tipis ke 157,52 setelah sebelumnya melonjak 0,8 persen. Ketidakpastian global diperkirakan membuat Bank of Japan mengambil sikap lebih hati-hati, sehingga peluang kenaikan suku bunga dalam waktu dekat semakin kecil.
Sementara itu, USD/CNY naik 0,3 persen menjadi 6,8996, menjauhi level terendah hampir tiga tahun yang sempat tercapai pekan lalu. Dolar Australia yang sensitif terhadap risiko juga tertekan, dengan AUD/USD turun 0,6 persen ke 0,7048.
Secara keseluruhan, penguatan dolar AS mencerminkan meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik Timur Tengah, sekaligus kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi dan perubahan kebijakan moneter global.
Dikutip dari metrotvnews.com
