Dolar Amerika Serikat (AS) sedikit melemah pada Rabu, 4 Maret 2026, setelah sebelumnya mencatat kenaikan besar selama dua hari berturut-turut. Meski demikian, mata uang tersebut tetap berada dekat level tertinggi dalam enam minggu terakhir di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Dikutip dari Investing.com, Kamis (5/3/2026), indeks dolar yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sekeranjang enam mata uang utama turun 0,2 persen menjadi 98,89.
Pelemahan tipis ini terjadi setelah sejumlah data ekonomi AS yang kuat mampu mengimbangi sentimen negatif akibat konflik yang meningkat di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan geopolitik dipicu oleh serangan terkoordinasi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan lalu, yang kemudian dibalas oleh Iran. Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan energi global, terutama melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan minyak dunia.
Lonjakan harga minyak mentah akibat risiko gangguan pasokan turut memicu kekhawatiran akan meningkatnya inflasi global. Kondisi ini berpotensi membuat bank sentral di berbagai negara kesulitan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.
Ahli strategi FX dan suku bunga global di Macquarie, Thierry Wizman, mengatakan para pelaku pasar dan bankir sentral kini semakin memperhatikan kemungkinan kembalinya tekanan inflasi.
Menurutnya, prospek Federal Reserve (The Fed) yang kemungkinan menahan suku bunga lebih lama menjadi salah satu faktor yang mendukung penguatan dolar AS, selain meningkatnya permintaan terhadap aset aman di tengah ketidakpastian global.
Ia juga mencatat bahwa sejumlah mata uang negara pengimpor minyak mengalami tekanan lebih besar terhadap dolar AS. Di antara negara maju, mata uang yang paling terdampak antara lain euro, krone Denmark, krona Swedia, serta dolar Selandia Baru.
Di sisi lain, sejumlah data ekonomi AS menunjukkan kinerja yang solid. Laporan ADP menunjukkan jumlah tenaga kerja sektor swasta AS meningkat sebesar 63 ribu pada Februari, menjadi kenaikan tertinggi sejak Juli 2025.
Selain itu, indikator utama sektor jasa dari Institute for Supply Management (ISM) juga meningkat ke level tertinggi dalam tiga setengah tahun, mencerminkan permintaan yang kuat dan kondisi ekonomi yang stabil.
Di pasar mata uang global, pasangan EUR/USD diperdagangkan naik tipis 0,1 persen ke level 1,1625 setelah sebelumnya sempat menyentuh titik terlemah sejak akhir November.
Sementara itu, GBP/USD turun 0,1 persen menjadi 1,3349, mendekati level terendah sejak Desember.
Di kawasan Asia, USD/JPY melemah 0,3 persen ke posisi 157,13, namun masih berada dekat level tertinggi lima minggu yang dicapai pada sesi sebelumnya. USD/CNY relatif stabil di level 6,8969 setelah tiga hari berturut-turut mengalami kenaikan.
Data ekonomi di China menunjukkan hasil yang beragam. Data PMI resmi mencatat aktivitas manufaktur mengalami kontraksi, sementara survei sektor swasta menunjukkan kondisi ekspansi yang lebih kuat dari perkiraan.
Di sisi lain, dolar Australia yang sensitif terhadap risiko berhasil pulih dengan kenaikan 0,4 persen ke level 0,7067 setelah sebelumnya mengalami tekanan sejak konflik Timur Tengah meningkat.
Pelaku pasar kini juga menantikan laporan Beige Book dari The Fed yang diharapkan dapat memberikan gambaran lebih lanjut mengenai kondisi ekonomi Amerika Serikat dan arah kebijakan moneter ke depan.
Dikutip dari metrotvnews.com
