Harga emas melonjak lebih dari dua persen dalam perdagangan Asia pada Senin, 2 Maret 2026, setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menyusul serangan besar-besaran Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Dilansir dari Investing.com, harga emas spot naik 2,1 persen menjadi USD5.387,55 per ons, mencapai level tertinggi sejak akhir Januari. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS melonjak 2,8 persen menjadi USD5.394,91 per ons.
Pasar global bereaksi keras terhadap eskalasi tersebut. Kematian tokoh paling berpengaruh di Iran memicu kekhawatiran akan konflik regional yang lebih luas, termasuk potensi gangguan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz yang merupakan jalur energi global strategis.
Israel melancarkan gelombang serangan baru ke Teheran dengan rudal dan pesawat tempur yang menargetkan infrastruktur komando serta pertahanan udara. Iran membalas dengan serangan rudal ke wilayah Israel dan pangkalan AS di kawasan Teluk.
Situasi ini memicu pergerakan “risk-off” di pasar keuangan global. Saham melemah, harga minyak melonjak, dan permintaan emas sebagai aset safe-haven meningkat tajam.
Strategis Riset Senior Pepperstone Michael Brown menyatakan level USD5.400 per ons menjadi batas psikologis penting, disusul rekor tertinggi akhir Januari di USD5.595 per ons. Ia juga melihat potensi harga emas bergerak menuju USD6.000 per ons pada akhir tahun.
Secara keseluruhan, harga emas telah naik hampir 25 persen sepanjang tahun ini, didukung oleh risiko geopolitik, pembelian bank sentral, serta ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter Federal Reserve.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak naik 1,3 persen menjadi USD95,15 per ons, sementara platinum menguat 0,3 persen menjadi USD2.396,11 per ons.
Dikutip dari metrotvnews.com
