Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat melaporkan inflasi negara tersebut mengalami kenaikan signifikan pada Maret 2026. Indeks harga konsumen atau consumer price index (CPI) tercatat meningkat sebesar 3,3 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Kenaikan ini terutama dipicu oleh lonjakan harga energi yang mencatat peningkatan terbesar dalam hampir dua tahun terakhir. Secara bulanan (month to month/mtm), harga konsumen juga naik sebesar 0,9 persen.
Lonjakan Energi Picu Inflasi
Data dari Bureau of Labor Statistics menunjukkan indeks energi melonjak hingga 10,9 persen pada Maret. Kenaikan ini didorong oleh harga bensin yang melesat 21,2 persen dan menyumbang sebagian besar kenaikan inflasi bulanan.
Sementara itu, inflasi inti yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi tercatat lebih moderat, yakni naik 0,2 persen secara bulanan dan 2,6 persen secara tahunan. Angka ini mencerminkan tekanan inflasi yang lebih stabil di luar sektor energi.
Kenaikan harga tersebut terjadi sebelum tercapainya gencatan senjata dalam konflik di Timur Tengah. Meski ketegangan mulai mereda, harga energi masih berada jauh di atas level sebelum konflik.
Dampak Langsung ke Konsumen
Menurut American Automobile Association, harga bensin di Amerika Serikat melonjak sekitar 40 persen sejak akhir Februari menjadi rata-rata USD4,15 per galon.
Lonjakan biaya bahan bakar ini berdampak luas terhadap sektor transportasi dan logistik. Perusahaan pelayaran, maskapai penerbangan, hingga layanan pengiriman makanan mulai menerapkan biaya tambahan untuk menutupi kenaikan operasional.
Selain itu, gangguan pada pasar gas alam turut mendorong kenaikan harga pupuk, yang berpotensi memicu inflasi pangan dalam waktu dekat.
Tantangan bagi Kebijakan The Fed
Kondisi ini menjadi tantangan bagi Federal Reserve dalam menjaga stabilitas inflasi. Target inflasi sebesar 2 persen kini semakin sulit dicapai di tengah tekanan harga energi yang tinggi.
Kenaikan inflasi juga diperkirakan membuat bank sentral lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan terkait penurunan suku bunga. Sebelumnya, The Fed telah menunda langkah pelonggaran kebijakan pada awal tahun.
Analis global dari Goldman Sachs Asset Management menyebutkan bahwa kondisi saat ini memberi ruang bagi The Fed untuk bersikap lebih sabar, namun risiko inflasi ke depan tetap perlu diwaspadai.
Secara keseluruhan, lonjakan inflasi pada Maret 2026 menegaskan bahwa tekanan harga global, terutama dari sektor energi, masih menjadi faktor utama yang memengaruhi perekonomian Amerika Serikat.
Dikutip dari metrotvnews.com
