Dolar Amerika Serikat sedikit melemah pada perdagangan Jumat, 16 Januari 2026, namun masih diperkirakan mencatat kenaikan mingguan lainnya. Penguatan ini didorong oleh data ekonomi Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan, sehingga menurunkan ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga lebih awal oleh Federal Reserve.
Dikutip dari Investing.com, Sabtu, 17 Januari 2026, Indeks Dolar yang mengukur kinerja dolar AS terhadap sekeranjang enam mata uang utama tercatat turun 0,1 persen ke level 99,095. Meski demikian, indeks tersebut berada di jalur kenaikan sekitar 0,2 persen secara mingguan, yang menjadi penguatan ketiga secara berturut-turut.
Kinerja dolar sepanjang pekan ini ditopang oleh sejumlah data ekonomi positif, salah satunya klaim awal pengangguran AS yang secara tak terduga turun menjadi 198 ribu pada pekan lalu. Angka tersebut lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 215 ribu, sekaligus menegaskan ketahanan pasar tenaga kerja Amerika Serikat.
Data tersebut memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga kebijakan pada level saat ini dalam jangka waktu lebih lama. Seiring hal itu, pelaku pasar menunda ekspektasi pemangkasan suku bunga pertama hingga pertengahan tahun 2026.
Analis ING dalam catatannya menyebut pergerakan dolar pekan ini didorong oleh faktor makroekonomi. Data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan tren yang lebih kuat, termasuk penjualan ritel dan klaim pengangguran, sementara Beige Book The Fed menggambarkan perekonomian yang tumbuh secara perlahan tanpa ancaman langsung terhadap pasar tenaga kerja.
Nada kehati-hatian juga tercermin dari pernyataan sejumlah pejabat Federal Reserve. Presiden Fed Chicago, Austan Goolsbee, menilai bank sentral perlu tetap fokus pada upaya menurunkan inflasi di tengah stabilitas pasar tenaga kerja. Presiden Fed Kansas City, Jeff Schmid, menyebut inflasi masih berada pada level yang terlalu tinggi, sedangkan Presiden Fed San Francisco, Mary Daly, mengatakan data ekonomi AS ke depan terlihat menjanjikan.
Di kawasan Eropa, euro sedikit menguat dengan pasangan EUR/USD naik ke level 1,1613. Penguatan ini terjadi setelah data menunjukkan harga konsumen Jerman stagnan pada Desember dan hanya meningkat 1,8 persen secara tahunan, masih di bawah target jangka menengah Bank Sentral Eropa sebesar 2 persen.
Sementara itu di Asia, yen Jepang menguat tipis dengan USD/JPY turun 0,3 persen ke level 158,19. Penguatan yen didukung oleh peringatan verbal dari otoritas Jepang yang berupaya meredam pelemahan mata uang tersebut ke level terendah hampir 18 bulan.
Di pasar mata uang lainnya, pound sterling menguat tipis dengan GBP/USD naik 0,1 persen ke 1,3392. Yuan China melemah dengan USD/CNY naik 0,1 persen ke 6,9681. Dolar Australia dan dolar Selandia Baru masing-masing naik 0,1 persen ke 0,6704 dan 0,3 persen ke 0,5760.
Dikutip dari metrotvnews.com
