Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) diperdagangkan menguat pada Rabu, 17 Desember 2025, bangkit dari level terendahnya sejak awal Oktober. Penguatan ini terjadi seiring pelaku pasar mencermati arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) setelah rilis data pasar tenaga kerja AS yang menunjukkan pelemahan.
Mengutip Investing.com, Kamis, 18 Desember 2025, indeks dolar—yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama lainnya—naik 0,4 persen ke level 98,200. Sebelumnya, indeks ini sempat menyentuh level terendah sejak awal Oktober pada awal pekan.
Sepanjang tahun 2025, indeks dolar tercatat turun lebih dari sembilan persen dan berada di jalur penurunan tahunan terdalam sejak 2017.
Data ketenagakerjaan AS yang dirilis Selasa menunjukkan jumlah pekerjaan di sektor non-pertanian meningkat 64 ribu pada November, melampaui ekspektasi pasar. Namun, angka tersebut menyusul penurunan tajam sebanyak 105 ribu pekerjaan pada Oktober, serta dibarengi dengan kenaikan tingkat pengangguran menjadi 4,6 persen, tertinggi sejak 2021.
Kondisi tersebut mencerminkan pasar tenaga kerja AS yang mulai mendingin dan menimbulkan ketidakpastian terhadap arah kebijakan moneter The Fed. Analis ING menilai bahwa kombinasi data ketenagakerjaan Oktober dan November belum sepenuhnya mengubah pandangan The Fed.
“Meskipun demikian, rilis gabungan data pekerjaan Oktober dan November kemarin tidak mengubah narasi Fed bahwa risiko terhadap pasar tenaga kerja AS cenderung menurun,” tulis analis ING dalam catatannya.
ING juga menyoroti pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell yang menempatkan tingkat pengangguran sebagai indikator utama keseimbangan pasar tenaga kerja. Tingkat pengangguran 4,6 persen saat ini dinilai lebih tinggi dibandingkan proyeksi median anggota FOMC sebesar 4,5 persen untuk akhir 2025.
Di pasar Eropa, sejumlah mata uang utama melemah terhadap dolar AS. Poundsterling turun 0,8 persen ke level 1,3322 setelah data inflasi Inggris dirilis lebih rendah dari perkiraan, sehingga meningkatkan ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Bank of England.
Euro juga melemah, dengan pasangan EUR/USD turun 0,3 persen ke level 1,1717. Meski demikian, euro masih berada dekat level tertinggi 12 minggu menjelang keputusan kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) yang dijadwalkan akhir pekan ini.
“Jika komentar agresif dari Isabel Schnabel terbukti sebagai pandangan minoritas dan proyeksi pertumbuhan zona euro tidak direvisi cukup tinggi, maka euro berpotensi tertekan,” ujar analis ING.
Di kawasan Asia, yen Jepang melemah dengan pasangan USD/JPY naik 0,5 persen ke level 155,54 menjelang keputusan kebijakan Bank of Japan (BOJ). BOJ secara luas diperkirakan akan menaikkan suku bunga seiring tanda-tanda inflasi yang lebih persisten dan perbaikan pertumbuhan upah.
Sementara itu, USD/CNY naik tipis 0,1 persen menjadi 7,0457. Dolar Australia turut melemah, dengan AUD/USD turun 0,2 persen ke level 0,6619, seiring tekanan pada pasar saham Wall Street yang menekan sentimen risiko global.
Dikutip dari metrotvnews.com
