Film Crocodile Tears karya sutradara Tumpal Tampubolon dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 7 Mei 2026 setelah berkeliling lebih dari 30 festival film di berbagai negara.
Tumpal menulis skenario film tersebut berdasarkan inspirasi dari tayangan dokumenter yang pernah ia tonton di televisi.
“Tayangan dokumenter di TV itu memperlihatkan seekor buaya betina yang menaruh anak-anaknya di dalam rahangnya. Ada sesuatu yang menakutkan sekaligus lembut dalam tindakan buaya itu,” ujar Tumpal dalam pernyataannya di Jakarta, Jumat.
Ia terinspirasi oleh gambaran seekor induk buaya yang melindungi anak-anaknya di dalam rahang dari ancaman pemangsa.
Melalui film ini, Tumpal mencoba mempertanyakan makna bakti dan cinta dalam keluarga.
“Bagaimana sesuatu yang lahir dari cinta bisa berubah menjadi beban, dan mengapa hubungan yang seharusnya melindungi justru bisa terasa menyesakkan,” ujarnya.
Kisah hubungan ibu dan anak
Cerita film berfokus pada kehidupan Johan dan ibunya yang dikenal sebagai Mama di sebuah taman buaya yang telah usang.
Tokoh Johan diperankan oleh Yusuf Mahardika, sementara karakter Mama dimainkan oleh Marissa Anita.
Johan digambarkan tumbuh di bawah pengawasan ketat sang ibu selama bertahun-tahun. Hubungan keduanya mulai berubah ketika Johan bertemu dengan seorang gadis bernama Arumi yang diperankan oleh Zulfa Maharani.
Mama tidak menyetujui hubungan tersebut, dan sikapnya perlahan berubah menjadi semakin ganjil serta menegangkan.
Film ini memadukan unsur realisme magis dengan teror psikologis dalam menggambarkan dinamika hubungan keluarga.
Perjalanan Tumpal Tampubolon di dunia film
Perjalanan Tumpal di dunia perfilman dimulai ketika skenario pendek pertamanya, The Last Believer, memenangkan kompetisi pengembangan skenario di Jakarta International Film Festival atau JiFFest pada 2005.
Sejak saat itu, ia mengikuti berbagai program pengembangan sineas internasional, seperti Asian Young Filmmakers Forum di Jeonju, Berlinale Talent Campus di Berlin, serta Asian Film Academy di Busan.
Film Crocodile Tears menjadi debut film panjang pertamanya setelah sebelumnya sukses lewat film pendek Laut Memanggilku.
Film pendek tersebut meraih Sonje Award untuk Film Pendek Terbaik di seksi Wide Angle Busan International Film Festival 2021 serta terpilih sebagai Film Cerita Pendek Terbaik di Festival Film Indonesia 2021.
Tayang di berbagai festival internasional
Produser film ini, Mandy Marahimin, menjelaskan bahwa proyek film panjang tersebut digarap bersama sejumlah rumah produksi internasional.
Penayangan perdana dunia atau world premiere film ini berlangsung di Toronto International Film Festival 2024.
Selain itu, film tersebut juga diputar di sejumlah festival besar seperti BFI London Film Festival, Adelaide Film Festival, dan Torino Film Festival.
Film ini juga meraih Direction Award dan Nongshim Award di Jakarta Film Week 2025 serta memenangkan penghargaan Best Screenplay di Asian Film Festival Barcelona 2025.
Produksi film tersebut turut mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Dikutip dari antaranews.com
