United States Dollar Turun Lagi ke Level Terendah Sejak April 2025

United States Dollar Turun Lagi ke Level Terendah Sejak April 2025

Dolar Amerika Serikat tercatat melemah pada perdagangan Rabu, 8 April 2026, dan berada di jalur untuk mencatat penurunan terbesar sejak April tahun lalu. Pelemahan tersebut terjadi setelah investor beralih dari aset safe haven ke pasar saham menyusul kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.

Mengutip data dari Investing.com, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama lainnya turun sekitar satu persen ke level 98,90. Penurunan tersebut diperkirakan menjadi yang terbesar sejak 21 April 2025.

Amerika Serikat dan Iran sebelumnya menyepakati gencatan senjata selama dua minggu untuk menghentikan sementara konflik yang memicu ketidakpastian di pasar global.

Kesepakatan Gencatan Senjata Redakan Ketegangan

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan bahwa kesepakatan tersebut dicapai setelah pembicaraan dengan para pemimpin dari Pakistan yang berperan sebagai mediator utama antara kedua negara.

Trump menyebutkan bahwa Amerika Serikat telah menerima proposal 10 poin dari Iran yang dinilai dapat menjadi dasar untuk melanjutkan proses negosiasi. Ia juga menegaskan bahwa Washington telah memenuhi tujuan militernya, sementara periode gencatan senjata dua minggu akan digunakan untuk menyelesaikan perjanjian secara resmi.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Teheran akan menghentikan operasi pertahanan dan membuka jalur aman bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz selama masa gencatan senjata, dengan syarat pelayaran dikoordinasikan dengan militer Iran.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif juga mengundang pejabat dari Amerika Serikat dan Iran untuk melakukan pembicaraan lanjutan di Islamabad.

Investor Beralih ke Aset Berisiko

Analis pasar senior di Trade Nation David Morrison mengatakan pelemahan dolar terjadi setelah investor mulai meninggalkan aset safe haven dan beralih ke instrumen berisiko seperti saham.

“Dolar AS merosot karena investor beralih dari aset safe haven setelah pengumuman gencatan senjata. Keputusan Presiden Trump untuk menangguhkan serangan terhadap Iran memicu reli risk-on di pasar global,” kata Morrison.

Ia menambahkan bahwa indeks dolar saat ini berada di area support sekitar 98,50. Sebelumnya, indeks tersebut beberapa kali gagal menembus level resistensi di sekitar 100, yang memicu spekulasi potensi pelemahan lanjutan.

Jika tekanan berlanjut, dolar berpotensi turun menuju level terendah yang sempat dicapai pada akhir Januari, yakni di bawah 96.

Ekspektasi Suku Bunga dan Inflasi Jadi Sorotan

Dolar AS sebelumnya menguat karena dianggap sebagai aset safe haven sejak konflik Iran memicu kekhawatiran terhadap lonjakan harga minyak global.

Namun setelah kesepakatan gencatan senjata, ekspektasi pasar terhadap kemungkinan penurunan suku bunga oleh Federal Reserve kembali meningkat, menurut alat pemantau suku bunga dari CME Group.

Analis dari Wells Fargo yang dipimpin oleh Tom Porcelli menilai lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik telah meningkatkan tekanan inflasi jangka pendek.

Menurut mereka, kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi utama dan menunda pelonggaran kebijakan moneter oleh Federal Reserve.

Euro, Poundsterling, dan Yen Menguat

Pelemahan dolar AS turut mendorong penguatan sejumlah mata uang utama dunia.

Euro terhadap dolar AS (EUR/USD) naik sekitar 0,7 persen ke level 1,1680, sementara poundsterling terhadap dolar AS (GBP/USD) menguat satu persen menjadi 1,3424.

Sementara itu, yen Jepang terhadap dolar AS (USD/JPY) juga menguat dan menjauh dari level psikologis 160, dengan pasangan mata uang tersebut turun 0,8 persen menjadi 158,40.

Analis dari JPMorgan Chase yang dipimpin oleh Alex Gallin menilai dampak inflasi akibat kenaikan harga energi berbeda-beda di setiap negara.

Menurut mereka, negara yang lebih bergantung pada impor bahan bakar cenderung mengalami lonjakan inflasi lebih cepat, sementara negara lain masih menahan dampak tersebut melalui kebijakan fiskal.