Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada pembukaan perdagangan Jumat, 6 Maret 2026. Pelemahan ini terjadi seiring penguatan dolar AS di pasar global akibat meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Mengutip data Bloomberg, rupiah berada di level Rp16.916 per dolar AS. Mata uang Garuda tersebut melemah 11 poin atau sekitar 0,07 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di posisi Rp16.905 per dolar AS.
Sementara itu, berdasarkan data Yahoo Finance pada waktu yang sama, rupiah tercatat berada di level Rp16.881 per dolar AS. Posisi ini justru sedikit menguat dibandingkan pembukaan perdagangan sehari sebelumnya yang berada di level Rp16.906 per dolar AS.
Perbedaan data tersebut menunjukkan bahwa pergerakan rupiah masih cukup fluktuatif pada awal perdagangan.
Rupiah Diprediksi Bergerak Fluktuatif
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah.
Menurutnya, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp16.900 hingga Rp16.940 per dolar AS.
Ia menjelaskan bahwa pergerakan rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan memuncak setelah Iran meluncurkan gelombang rudal ke Israel pada Kamis pagi. Serangan tersebut menyebabkan jutaan warga terpaksa berlindung di tempat perlindungan bom saat konflik memasuki hari keenam.
Serangan itu terjadi hanya beberapa jam setelah upaya untuk menghentikan serangan udara Amerika Serikat diblokir di Washington.
Konflik Timur Tengah Tekan Pasar Global
Situasi semakin memanas setelah kapal selam Amerika Serikat menenggelamkan kapal perang Iran di lepas pantai Sri Lanka pada Rabu. Insiden tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 80 orang.
Selain itu, sistem pertahanan udara NATO juga menghancurkan rudal balistik Iran yang ditembakkan ke arah Turki.
Pasukan Iran juga dilaporkan menyerang kapal tanker minyak di sekitar Selat Hormuz. Bahkan, ledakan dilaporkan terjadi di dekat sebuah kapal tanker di lepas pantai Kuwait menurut laporan Operasi Perdagangan Maritim Inggris.
Ibrahim Assuaibi menilai eskalasi konflik ini semakin meningkatkan ketidakpastian di pasar global.
Menurutnya, situasi semakin kompleks setelah putra pemimpin tertinggi Iran yang telah tewas muncul sebagai kandidat terdepan untuk menggantikannya. Hal ini mengindikasikan bahwa Teheran tidak akan mudah menyerah terhadap tekanan internasional.
Konflik tersebut terjadi setelah Amerika Serikat dan Israel meluncurkan kampanye militer yang dilaporkan telah menewaskan ratusan orang serta mengguncang pasar keuangan global.
Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Kuat
Di tengah tekanan eksternal tersebut, Bank Indonesia menanggapi penilaian terbaru dari lembaga pemeringkat Fitch Ratings yang mempertahankan sovereign credit rating Indonesia pada level BBB.
Fitch juga menyesuaikan outlook peringkat Indonesia menjadi negatif.
Meski demikian, Bank Indonesia menilai afirmasi rating pada level BBB mencerminkan kepercayaan global terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang masih kuat.
Penyesuaian outlook tersebut juga dinilai tidak mencerminkan pelemahan kondisi ekonomi domestik.
Selain itu, stabilitas sistem keuangan nasional masih tetap terjaga dengan baik. Kondisi ini didukung oleh likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang kuat, serta tingkat risiko kredit yang relatif rendah.
Perkembangan digitalisasi sistem pembayaran yang semakin luas juga dinilai turut memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional, didukung oleh infrastruktur yang stabil dan struktur industri keuangan yang sehat.
Dikutip dari metrotvnews.com
