Dolar Amerika Serikat (AS) melemah dari level tertinggi hampir empat minggu terhadap mata uang utama pada perdagangan Senin waktu setempat (Selasa WIB), karena para pedagang mengalihkan perhatian mereka ke sejumlah data ekonomi AS yang akan dirilis minggu ini untuk mencari petunjuk mengenai prospek kebijakan moneter.
Pasar secara umum mengabaikan peristiwa di Venezuela, menyusul serangan AS yang menyebabkan penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores.
Mengutip Investing.com, Selasa (6/1/2026), indeks dolar yang sebelumnya mencapai level tertinggi sejak 10 Desember, melemah dan terakhir turun 0,3 persen menjadi 98,262. Sebelumnya, indeks dolar mencatat penurunan 1,2 persen pada Desember, kinerja terlemah sejak Agustus 2025.
Dolar AS menurun 0,16 persen terhadap franc Swiss menjadi 0,79135 franc, sementara euro pulih dari kerugian awal perdagangan dan naik 0,05 persen menjadi USD1,17265 per euro. Dolar juga melemah terhadap yen sebesar 0,37 persen menjadi 156,190, terhadap dolar Australia turun 0,31 persen menjadi USD0,6714, dan terhadap dolar Selandia Baru turun 0,35 persen menjadi USD0,5789.
Fokus pasar kini tertuju pada laporan ketenagakerjaan bulanan AS yang akan dirilis Jumat mendatang. Laporan ini dipandang kunci dalam membentuk ekspektasi terkait kebijakan moneter AS, yang menjadi faktor utama pergerakan dolar.
Sementara itu, aktivitas manufaktur AS tercatat mengalami kontraksi lebih besar dari perkiraan pada Desember, memperpanjang tren penurunan selama 10 bulan berturut-turut. Menurut Institut Manajemen Pasokan, pesanan baru kembali turun dan biaya input meningkat, karena sektor ini masih menanggung dampak tarif impor era Trump.
Para pedagang memperkirakan dua kali pemotongan suku bunga AS sepanjang tahun ini, menurut perhitungan LSEG berdasarkan kontrak berjangka.
Di sisi lain, Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, mengaku tidak bersalah di pengadilan federal New York pada Senin atas empat dakwaan kriminal, termasuk terorisme narkoba, konspirasi impor kokain, serta kepemilikan senapan mesin dan alat perusak. Istrinya, Cilia Flores, juga mengaku tidak bersalah.
Investor juga menantikan keputusan Presiden AS Donald Trump terkait pilihan ketua Federal Reserve (Fed) berikutnya, setelah masa jabatan Jerome Powell berakhir pada Mei. Trump menyatakan akan mengumumkan pilihannya bulan ini, dengan pengganti Powell diperkirakan akan mendukung penurunan suku bunga secara signifikan.
Dikutip dari metrotvnews.com
