Tekanan Mata Uang Berlanjut, Rupiah Sentuh Level Rp18.000 per Dolar AS Pagi Ini

Tekanan Mata Uang Berlanjut, Rupiah Sentuh Level Rp18.000 per Dolar AS Pagi Ini

Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Selasa, 29 September 2026. Mengutip data Bloomberg hingga pukul 09.22 WIB, rupiah menyentuh level Rp18.000 per USD, melemah 22 poin atau setara 0,12 persen dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.978 per USD.

Sementara itu, data Yahoo Finance pada waktu yang sama mencatat rupiah berada di level Rp17.960 per USD. Analis mata uang Ibrahim Assuabi memprediksi laju mata uang Garuda sepanjang hari ini akan bergerak fluktuatif tetapi cenderung ditutup melemah pada rentang Rp17.900 hingga Rp17.950 per USD.

Eskalasi Geopolitik Selat Hormuz dan Sentimen Ekonomi AS

Ibrahim mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah melemah hari ini sangat dipengaruhi oleh eskalasi konflik di Timur Tengah serta penantian rilis data penting ekonomi AS:

  • Sikap Tegas Iran & Selat Hormuz: Iran menegaskan tidak akan melunakkan syarat pembukaan kembali Selat Hormuz, termasuk tuntutan pencabutan blokade angkatan laut Washington dan penarikan sanksi minyak. Ketegangan meningkat setelah kapal operasional Korps Marinir AS dihantam rudal jelajah Iran di Selat Hormuz, serta peningkatan serangan kelompok Houthi ke wilayah Arab Saudi dan Laut Merah.
  • Prospek Negosiasi & Agenda Data Ekonomi AS: Meskipun situasi memanas, pihak penengah dari Qatar terus berupaya menghidupkan kembali meja perundingan. Di sisi lain, pelaku pasar bersiap mengantisipasi rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) pada Rabu, ISM Manufacturing PMI pada Kamis, serta laporan Nonfarm Payrolls (NFP) pada Jumat yang akan menentukan arah kebijakan The Fed bulan depan.

Ancaman Harga Minyak Dunia terhadap APBN dan Inflasi Domestik

Dari dalam negeri, lonjakan harga minyak dunia di atas USD90 per barel menjadi ancaman nyata bagi perekonomian nasional. Asumsi Indonesia Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 ditetapkan sebesar USD70 per barel, sementara realisasi ICP telah melonjak melampaui USD80-USD90 per barel.

Ibrahim memaparkan bahwa setiap kenaikan ICP sebesar USD1 per barel berpotensi menambah pendapatan negara Rp3,5 triliun–Rp4 triliun. Namun, belanja negara untuk subsidi dan kompensasi energi membengkak lebih besar hingga Rp10,3 triliun, yang mengakibatkan pelebaran defisit anggaran sekitar Rp6,8 triliun.

Guna meredam volatilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi yang naik ke posisi 3,19 persen year-on-year pada Agustus, Bank Indonesia memilih mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen. Keputusan ini ditopang oleh cadangan devisa nasional yang masih berada pada kategori solid sebesar USD146,5 miliar sebagai benteng intervensi pasar.