Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini, Selasa (2/12/2025). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka menguat 0,15 persen menjadi Rp16.625 per dolar AS, setelah penutupan perdagangan Senin (1/12/2025) di level Rp16.663 per dolar AS.
Analis Pasar Uang, Lukman Leong, menjelaskan penguatan rupiah terjadi karena dolar AS masih berada di bawah tekanan. Indeks dolar AS hari ini tercatat di level 99,46, naik tipis 0,03 persen dibandingkan posisi Senin kemarin.
Tekanan terhadap dolar AS muncul setelah rilis data sektor manufaktur Negeri Paman Sam yang menunjukkan kontraksi lebih dalam dari perkiraan. Data Institute Supply of Management (ISM) mencatat Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur AS November berada di 48,2, turun dari Oktober yang berada di 48,7 dan di bawah ekspektasi pasar 48,6. Dengan demikian, sektor manufaktur AS sudah mengalami kontraksi selama sembilan bulan berturut-turut.
Menurut Lukman, kontraksi sektor manufaktur AS yang berkepanjangan terutama dipengaruhi kebijakan tarif Amerika Serikat, memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat.
Namun, penguatan rupiah diperkirakan masih terbatas, seiring dengan data ekonomi domestik Indonesia yang relatif lemah. Meski inflasi menunjukkan moderasi, kinerja perdagangan Indonesia mengecewakan. Oleh karena itu, rupiah diprediksi akan bergerak dalam kisaran Rp16.600–Rp16.700 per dolar AS.
Dikutip dari RRI.co.id
