Dolar AS Terkoreksi, Pasar Cermati Data Ketenagakerjaan Amerika Serikat

Dolar AS Terkoreksi, Pasar Cermati Data Ketenagakerjaan Amerika Serikat

Dolar Amerika Serikat (AS) sedikit melemah pada perdagangan Rabu waktu setempat setelah sebelumnya menguat didorong statusnya sebagai aset safe haven di tengah kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah.

Mengutip Investing.com, indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama turun 0,1 persen menjadi 99,60. Pada perdagangan sebelumnya, indeks dolar sempat menguat 0,3 persen.

Pelemahan dolar terjadi seiring meredanya tekanan di pasar obligasi pemerintah AS. Penurunan imbal hasil obligasi turut mendorong investor kembali mengalihkan perhatian ke pasar saham.

Sebelumnya, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sempat mencapai level tertinggi sejak November 2023. Sementara itu, imbal hasil obligasi tenor dua tahun juga berada di level tertinggi sejak Juli 2024.

Kenaikan imbal hasil dipicu kekhawatiran terhadap inflasi akibat tingginya harga minyak, potensi peningkatan utang perusahaan untuk membiayai pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), serta membengkaknya utang fiskal.

Imbal hasil yang tinggi dapat meningkatkan biaya pinjaman dan berpotensi membebani konsumen maupun dunia usaha. Kondisi suku bunga tinggi juga selama ini cenderung memberikan dukungan terhadap penguatan dolar AS.

Namun, tekanan mulai mereda pada perdagangan Rabu. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 1,2 basis poin menjadi 4,784 persen. Sementara imbal hasil tenor dua tahun turun 2,1 basis poin menjadi 4,373 persen.

Data Tenaga Kerja Jadi Perhatian

Pelaku pasar kini mencermati sejumlah indikator ekonomi AS menjelang rilis laporan nonfarm payrolls periode Agustus.

Data ADP menunjukkan perusahaan swasta di AS menambah 38 ribu lapangan kerja pada Agustus. Angka tersebut berada di bawah perkiraan pasar sebesar 47 ribu dan menjadi laju pertumbuhan lapangan kerja paling lambat sejak Januari.

Meski demikian, data ketenagakerjaan yang melambat diimbangi oleh aktivitas sektor manufaktur yang masih relatif kuat. Pesanan baru barang manufaktur meningkat 0,9 persen secara bulanan pada Juli menjadi USD663,60 miliar, melampaui perkiraan kenaikan sebesar 0,7 persen.

Sementara itu, Beige Book terbaru Federal Reserve menunjukkan aktivitas ekonomi regional AS sedikit meningkat sejak awal Juli. Sebanyak 10 dari 12 distrik Federal Reserve melaporkan pertumbuhan ekonomi dalam kisaran ringan hingga moderat.

Berbagai indikator tersebut menjadi perhatian pasar dalam menilai kondisi ekonomi AS dan arah kebijakan moneter Federal Reserve ke depan.

Ketegangan AS-Iran Kembali Jadi Sorotan

Di pasar komoditas, harga minyak kembali menguat meski kenaikannya lebih terbatas dibandingkan perdagangan sebelumnya. Kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman November naik 0,6 persen menjadi USD95,26 per barel.

Pada perdagangan sebelumnya, harga Brent melonjak 4,6 persen. Pergerakan harga minyak masih dipengaruhi meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran dalam beberapa pekan terakhir.

Komando Pusat AS pada Selasa menyatakan telah menyelesaikan serangkaian serangan terhadap sejumlah target Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), termasuk fasilitas pertahanan udara, sistem radar, dan fasilitas komunikasi.

AS dan Iran sebelumnya mengalami kebuntuan terkait kendali atas Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump kemudian disebut mengubah pendekatan dari serangan militer menuju tekanan ekonomi.

Namun, aktivitas militer kembali berlangsung pada Minggu untuk pertama kalinya sejak Juli. Perkembangan tersebut kembali meningkatkan perhatian pelaku pasar terhadap risiko geopolitik dan dampaknya terhadap pasar keuangan serta komoditas.