Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Senin (10/8/2026) setelah mencatatkan kinerja mingguan terbaik sejak pertengahan April. Kenaikan harga minyak serta tekanan pada sektor teknologi dan real estat menjadi faktor yang membebani pasar saham Amerika Serikat.
Indeks S&P 500 turun 0,1 persen ke level 7.753,46. Nasdaq Composite melemah 0,3 persen menjadi 26.605,36, sedangkan Dow Jones Industrial Average turun 0,1 persen ke level 53.975,63.
Pelemahan terjadi setelah Wall Street sebelumnya menguat berkat musim laporan keuangan yang solid, pemulihan saham semikonduktor, serta data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan. Kondisi tersebut membuat investor mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada September.
Data Inflasi Jadi Perhatian
Perhatian investor kini beralih ke data inflasi AS. Data Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) Juli dijadwalkan dirilis pada Rabu dan Kamis. Laporan penjualan ritel juga akan menjadi perhatian pada Jumat.
Data ketenagakerjaan Juli menunjukkan ekonomi AS kehilangan 23 ribu lapangan kerja. Selain itu, data Mei dan Juni direvisi turun secara kumulatif sebesar 103 ribu pekerjaan.
Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap pelemahan pasar tenaga kerja, meski kondisi secara keseluruhan masih dinilai relatif kuat. Di sisi lain, kenaikan harga minyak akibat konflik Iran turut menambah risiko inflasi.
Intel dan Apple Tertekan
Saham Intel turun 4,1 persen setelah perusahaan mengumumkan rencana penawaran saham senilai USD15 miliar untuk membantu membiayai belanja modal. Meski demikian, saham Intel masih mencatat kenaikan hampir tiga kali lipat sepanjang tahun berjalan.
Sementara itu, saham Apple melemah 1,5 persen setelah Jefferies menurunkan peringkat saham perusahaan. Penurunan tersebut dipengaruhi laporan mengenai perubahan rencana Apple dalam pengembangan iPhone berbodi kaca.
