Harga bitcoin melemah lebih dari dua persen pada perdagangan Kamis (9/7/2026) setelah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu aksi jual pada aset berisiko. Di sisi lain, pelaku pasar juga mencermati risalah rapat Federal Reserve (The Fed) yang menunjukkan ketidakpastian mengenai arah kebijakan suku bunga.
Mengutip data Investing.com, bitcoin sebagai aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia turun 2,1 persen ke level US$62.115,3. Sebelumnya, bitcoin sempat diperdagangkan di atas US$64.600 pada awal pekan.
Tekanan terhadap pasar kripto meningkat setelah eskalasi konflik di Timur Tengah kembali memanas. Militer AS melancarkan serangan terhadap Iran sebagai respons atas serangan terhadap tiga kapal tanker minyak komersial di sekitar Selat Hormuz.
Situasi semakin memanas setelah Iran melakukan serangan balasan. Presiden AS, Donald Trump, dalam pertemuan puncak NATO di Turki menyatakan gencatan senjata antara AS dan Iran telah berakhir serta membuka peluang dilakukannya operasi militer lanjutan terhadap Teheran.
Meningkatnya ketegangan geopolitik tersebut turut mendorong lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak mentah Brent bahkan sempat menembus level US$80 per barel pada perdagangan Rabu, menjadi posisi tertinggi sejak 22 Juni 2026.
Risalah The Fed Perkuat Ketidakpastian Pasar
Selain faktor geopolitik, sentimen pasar juga dipengaruhi risalah rapat Federal Reserve periode 16–17 Juni yang memperlihatkan perbedaan pandangan di antara para pembuat kebijakan mengenai arah suku bunga.
Dalam risalah tersebut, para pejabat bank sentral AS menilai inflasi masih berada pada level tinggi, antara lain dipengaruhi kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah. Sejumlah peserta bahkan mengisyaratkan perlunya kenaikan suku bunga lebih cepat apabila tekanan inflasi berlanjut.
Meski demikian, sebagian besar pejabat The Fed masih memperkirakan inflasi akan bergerak menuju target dua persen. Namun, mereka juga mengingatkan risiko inflasi tetap tinggi apabila permintaan domestik kuat, konflik geopolitik berkepanjangan, atau dampak tarif perdagangan semakin besar.
Suku bunga yang tinggi umumnya mengurangi daya tarik aset berisiko, termasuk mata uang kripto, karena investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih stabil.
Arus Dana ETF Bitcoin Masih Positif
Di tengah pelemahan harga, minat investor institusi terhadap bitcoin masih bertahan. Berdasarkan data SoSoValue, spot Bitcoin ETF di Amerika Serikat membukukan arus masuk dana bersih selama tiga hari berturut-turut hingga Selasa.
Arus dana tersebut membantu menopang pemulihan harga bitcoin dari posisi terendah pada akhir Juni, meski secara mingguan aliran dana masih mencatatkan arus keluar bersih akibat penarikan dana besar pada sesi sebelumnya.
Sementara itu, dari sisi regulasi, Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) dikabarkan tengah menyiapkan proposal aturan baru bertajuk Reg Crypto. Regulasi tersebut diharapkan dapat memberikan kepastian hukum sekaligus mempermudah perusahaan rintisan aset digital dalam memenuhi persyaratan regulasi dan memperoleh pendanaan.
Harga Aset Kripto Lainnya Ikut Melemah
Pelemahan tidak hanya terjadi pada bitcoin. Sejumlah aset kripto utama lainnya juga ditutup di zona merah, antara lain:
- Ethereum turun 2,1 persen menjadi US$1.735,98.
- XRP melemah 2,2 persen menjadi US$1,0888.
- Solana terkoreksi 4,5 persen.
- Cardano turun 4,5 persen.
- Dogecoin melemah 2,1 persen.
Pelemahan mayoritas aset kripto mencerminkan meningkatnya sikap hati-hati investor di tengah ketidakpastian geopolitik global dan prospek kebijakan moneter Amerika Serikat.
